Ringkasan Cepat:
- Prevalensi stunting nasional turun ke 19,8% pada 2024, pertama kalinya di bawah angka 20% sejak survei ini konsisten dilakukan.
- Angka ini setara penurunan 377 ribu anak dibanding 2023, menurut Kementerian Kesehatan RI.
- Pemerintah menargetkan stunting turun lagi ke 17,5% pada 2026 dan 14,2% pada 2029.
Jakarta, 12 Agustus 2026 — Kementerian Kesehatan RI mencatat prevalensi stunting nasional turun menjadi 19,8 persen pada 2024, level terendah sejak data mulai konsisten dipantau tahun 2019, berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI).
Mengapa Ini Penting?

Angka 19,8 persen bukan sekadar penurunan biasa. Ini pertama kalinya prevalensi stunting nasional menembus di bawah ambang 20 persen sejak pemerintah rutin merilis data SSGI. Dibandingkan 21,5 persen pada 2023, penurunan ini setara dengan 377 ribu anak Indonesia yang lepas dari kondisi stunting dalam setahun.
Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin menyampaikan capaian ini dalam Rapat Koordinasi Nasional Stunting di Jakarta. “Alhamdulillah prevalensinya sudah turun menjadi 19,8 persen,” ujar Budi, seraya menyebut penurunan ini signifikan dalam sepuluh tahun terakhir.
Stunting sendiri, menurut definisi WHO, adalah gangguan pertumbuhan anak akibat kekurangan gizi kronis, infeksi berulang, dan stimulasi psikososial yang tidak memadai — bukan sekadar soal tinggi badan pendek. Dampaknya membekas jangka panjang, dari kemampuan kognitif hingga produktivitas saat dewasa. Itu sebabnya setiap pilar gizi seimbang anak yang diterapkan sejak dini punya bobot besar terhadap tren nasional ini.
Apa Faktor di Balik Penurunan?

Kemenkes menyebut dua faktor kesehatan yang paling menentukan tren ini: gizi ibu hamil yang tercukupi dan bebas anemia, serta pemenuhan protein hewani bagi balita usia 12 hingga 24 bulan — periode yang dikenal sebagai 1.000 hari pertama kehidupan.
Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Kemenkes, Maria Endang Sumiwi, menjelaskan pentingnya rentang kehamilan hingga usia 24 bulan sebagai fokus intervensi utama. “Modal awal gizi yang baik akan berdampak pada penurunan stunting jangka panjang,” katanya.
Data usia balita turut mengonfirmasi arah perbaikan ini. Kelompok usia 0–5 bulan turun dari 13,7 menjadi 10 persen, kelompok 6–11 bulan turun dari 13,1 menjadi 11,5 persen, sementara kelompok 12–23 bulan turun dari 22,7 menjadi 19,9 persen. Namun kesenjangan antarwilayah masih tajam — provinsi seperti Nusa Tenggara Timur tercatat di atas 37 persen, jauh di atas provinsi dengan angka terendah seperti Bali yang berada di kisaran 8,6 persen.
Ketimpangan gizi ini bekerja dua arah. Selain stunting, Indonesia juga menghadapi beban ganda malnutrisi — sebagaimana ditunjukkan tren obesitas anak yang naik 10 kali lipat dalam empat dekade terakhir menurut data Kemenkes.
Tren Stunting Nasional dari Tahun ke Tahun

| Tahun | Prevalensi Stunting |
|---|---|
| 2013 | 37,2% |
| 2016 | 27,6% |
| 2019 | 27,7% |
| 2021 | 24,4% |
| 2022 | 21,6% |
| 2023 | 21,5% |
| 2024 | 19,8% |
Sumber: Survei Status Gizi Indonesia (SSGI), Kementerian Kesehatan RI, dirangkum indonesiabaik.id.
Tren ini menunjukkan penurunan yang konsisten sejak 2019, meski sempat fluktuatif di periode 2016–2019. Capaian 19,8 persen pada 2024 menjadi titik terendah dalam rentang data yang tersedia sejak saat itu.
Bagaimana dengan Gunungkidul?

Tren nasional ini sejalan dengan yang terjadi di tingkat kabupaten. Di Gunungkidul sendiri, angka stunting tercatat turun ke 15,72 persen per Februari 2026 — sudah di bawah rata-rata nasional, meski Dinas Kesehatan setempat mewaspadai kemarau panjang sebagai tantangan baru bagi ketahanan gizi balita.
Tantangan itu makin nyata setelah krisis air bersih meluas di Gunungkidul pada Juli 2026, dengan balita stunting disebut sebagai kelompok paling rentan terdampak. Orang tua di wilayah rawan kekeringan disarankan mengenali lebih dini ciri-ciri anak stunting agar penanganan tidak terlambat, mengingat akses air bersih yang terbatas turut memengaruhi pola makan dan sanitasi anak.
Apa Selanjutnya?

Pemerintah menetapkan target penurunan bertahap sesuai Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional: 18,8 persen pada 2025, 17,5 persen pada 2026, 16,3 persen pada 2027, 15,2 persen pada 2028, hingga 14,2 persen pada 2029.
Untuk mencapai target 2029, Kemenkes menyebut perlu percepatan penurunan rata-rata 1,2 poin persentase per tahun, dengan upaya agar bisa dipercepat hingga 3–4 poin per tahun. Fokus utama ke depan disebut sebagai strategi “no new stunting” — mencegah kasus baru dengan menjangkau sebanyak mungkin ibu hamil dan balita di masa krusial pertumbuhan.
Artikel ini ditulis oleh Jesse, kontributor kesehatan anak di pagakabgunungkidul.org. Data bersumber dari Kementerian Kesehatan RI dan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024.