pagakabgunungkidul – Jam menunjukkan pukul dua dini hari.
Rumah sudah gelap dan semua orang seharusnya sedang tidur. Namun dari kamar sebelah terdengar suara anak yang mulai gelisah. Ketika dahinya disentuh, terasa lebih hangat dari biasanya.
Termometer pun dikeluarkan.
Beberapa detik kemudian muncul angka yang hampir selalu berhasil membuat jantung orang tua berdetak sedikit lebih cepat: 38,5°C.
“Demam.”
Dalam hitungan menit, kantuk bisa langsung hilang. Pikiran mulai ke mana-mana. Apakah cukup diberi minum dan dipantau? Haruskah diberi obat penurun panas? Apakah perlu langsung pergi ke IGD? Bagaimana kalau suhunya naik menjadi 39°C atau bahkan 40°C?
Demam pada anak memang menjadi salah satu kondisi yang paling mudah membuat orang tua khawatir. Padahal demam sendiri bukanlah penyakit. American Academy of Pediatrics menjelaskan demam biasanya merupakan tanda tubuh sedang melawan penyakit atau infeksi. Demam pada umumnya juga tidak berbahaya dengan sendirinya.
Namun ada satu catatan penting: usia anak, kondisi umum, durasi demam, dan gejala yang menyertainya tetap harus diperhatikan.
Itulah sebabnya angka di termometer hanya merupakan awal cerita.
Demam pada Anak Sebenarnya Apa?
Kita sering menggunakan istilah “panas” dan “demam” untuk menggambarkan hal yang sama.
Padahal ketika anak terasa hangat saat disentuh, belum tentu ia benar-benar mengalami demam. Anak yang baru berlari, menggunakan pakaian tebal, atau berada di ruangan panas juga dapat terasa hangat.
Cara yang lebih objektif tentu menggunakan termometer.
American Academy of Pediatrics menyebut sebagian besar dokter anak menganggap suhu 38°C atau lebih sebagai demam. Suhu tubuh normal sendiri dapat berubah berdasarkan usia, aktivitas, kondisi kesehatan, waktu dalam sehari, dan faktor lainnya.
Karena itu, daripada hanya mengandalkan telapak tangan di dahi, termometer jauh lebih membantu ketika orang tua perlu mengetahui kondisi anak dengan lebih akurat.
Kenapa Tubuh Anak Menaikkan Suhu?
Bayangkan tubuh memiliki sistem keamanan.
Ketika sistem imun mendeteksi adanya infeksi, tubuh memberikan berbagai respons untuk membantu melawannya. Salah satunya dapat berupa peningkatan suhu tubuh.
Itulah mengapa demam sering muncul ketika anak mengalami infeksi virus maupun bakteri.
Jadi, ketika termometer menunjukkan angka yang lebih tinggi dari biasanya, tubuh tidak selalu sedang “rusak”. Bisa jadi sistem pertahanannya justru sedang bekerja.
American Academy of Pediatrics menjelaskan bahwa demam umumnya merupakan tanda sistem imun sedang bekerja dan tubuh berusaha memulihkan dirinya.
Pemahaman ini penting karena tujuan orang tua seharusnya bukan sekadar membuat angka pada termometer kembali menjadi 36 atau 37°C secepat mungkin.
Yang jauh lebih penting adalah melihat bagaimana kondisi anak secara keseluruhan.
Jangan Hanya Melihat Angka di Termometer
Ini mungkin salah satu perubahan cara pandang yang paling membantu ketika menghadapi demam pada anak.
Bayangkan ada dua anak.
Anak pertama memiliki suhu 39°C. Pipinya merah dan tubuhnya hangat, tetapi ia masih mau minum. Setelah beristirahat, ia masih menjawab ketika diajak bicara dan sesekali bahkan meminta menonton kartun favoritnya.
Anak kedua memiliki suhu 38°C. Angkanya memang lebih rendah, tetapi anak terlihat sangat lemas, sulit dibangunkan, tidak mau minum, atau bernapas dengan susah payah.
Mana yang lebih mengkhawatirkan?
Angka suhu memang penting, tetapi kondisi umum anak memberikan informasi yang tidak kalah penting.
Mayo Clinic menekankan bahwa bagaimana anak terlihat dan berperilaku dapat lebih penting daripada sekadar angka suhu. Anak yang masih minum, bernapas dengan baik, dan berinteraksi tentu memberikan gambaran berbeda dibanding anak yang sangat mengantuk, mengalami dehidrasi, atau kesulitan bernapas.
Itulah sebabnya orang tua perlu “melihat anak”, bukan hanya “melihat termometer”.
Apa Penyebab Demam pada Anak?
Demam dapat memiliki banyak penyebab.
Infeksi merupakan penyebab yang sangat umum. Anak dapat mengalami demam ketika terserang infeksi virus seperti pilek atau flu, tetapi beberapa infeksi bakteri juga dapat menyebabkan demam.
American Academy of Pediatrics menjelaskan bahwa hampir semua demam disebabkan oleh infeksi baru, dan infeksi virus jauh lebih umum dibanding infeksi bakteri.
Itu juga berarti demam tidak otomatis menunjukkan bahwa anak membutuhkan antibiotik.
Antibiotik hanya digunakan untuk infeksi bakteri tertentu. Jika penyebab demam adalah virus, antibiotik tidak akan menghilangkan virus tersebut.
Gejala Lain Bisa Memberikan Petunjuk
Ketika anak demam, coba jangan berhenti pada pertanyaan, “Suhunya berapa?”
Perhatikan apa lagi yang terjadi.
Apakah anak batuk? Apakah hidungnya meler? Apakah tenggorokannya sakit? Apakah ia muntah atau diare? Apakah telinganya sakit? Apakah muncul ruam? Apakah ia mengeluh sakit ketika buang air kecil?
American Academy of Pediatrics menjelaskan anak yang demam dapat mengalami gejala lain seperti sakit telinga, sakit tenggorokan, ruam, atau sakit perut. Gejala-gejala tersebut dapat membantu memberikan petunjuk mengenai penyebab demam.
Namun menentukan diagnosis tetap tidak bisa hanya berdasarkan satu atau dua gejala.
Jika kondisi anak meragukan, pemeriksaan tenaga kesehatan diperlukan.
Bagaimana Cara Mengukur Demam pada Anak dengan Benar?
Malam itu, ketika anak terasa panas, mungkin ada tiga termometer di rumah.
Satu termometer digital tersimpan di kotak obat. Satu termometer tembak berada di laci. Sementara termometer lama entah terselip di mana.
Kemudian muncul pertanyaan baru: yang mana yang paling akurat?
Pengukuran suhu memang dapat dilakukan melalui beberapa lokasi tubuh, dan hasil serta keakuratannya bisa berbeda.
Mayo Clinic menjelaskan termometer digital dapat digunakan untuk mengukur suhu melalui beberapa bagian tubuh seperti rektum, mulut, atau ketiak. Ketika melaporkan suhu kepada tenaga kesehatan, sebaiknya orang tua juga menjelaskan bagaimana suhu tersebut diukur.
Ini penting karena angka yang sama dapat memiliki interpretasi yang berbeda bergantung pada metode pengukurannya.
Hindari Termometer Air Raksa
Mungkin masih ada rumah yang menyimpan termometer kaca model lama.
Namun termometer air raksa tidak lagi direkomendasikan.
Mayo Clinic menjelaskan termometer merkuri dapat pecah dan melepaskan uap merkuri yang berbahaya jika terhirup. Termometer digital menjadi pilihan yang lebih aman.
Jadi, kalau masih ada termometer air raksa yang diwariskan dari lemari obat keluarga, sebaiknya jangan dijadikan alat utama untuk memantau suhu anak.
Kapan Demam pada Anak Bisa Dirawat di Rumah?
Sekarang kembali ke situasi pukul dua pagi tadi.
Anak demam, tetapi masih sadar penuh. Ia masih mengenali orang tuanya, mau minum, bernapas dengan nyaman, dan tidak menunjukkan gejala yang mengkhawatirkan.
Pada anak yang lebih besar dan secara umum sehat, demam ringan dengan kondisi anak yang tetap baik sering kali dapat dipantau di rumah.
HealthyChildren.org memberikan contoh anak usia lima tahun dengan demam sekitar 102°F atau 38,9°C, pilek dan batuk, tetapi masih tertawa, bermain, dan mau makan sebagai situasi yang umumnya dapat dirawat di rumah.
Namun keputusan ini tetap perlu disesuaikan dengan usia dan kondisi medis anak.
Demam pada bayi yang sangat muda memiliki aturan berbeda, yang akan kita bahas sebentar lagi.
Saat Anak Demam, Fokus pada Kenyamanannya
Ada satu kebiasaan yang sangat mudah terjadi.
Orang tua mengukur suhu.
38,7°C.
Lima belas menit kemudian diukur lagi.
38,6°C.
Setengah jam kemudian termometer keluar lagi.
38,8°C.
Malam akhirnya berubah menjadi pertandingan antara orang tua dan angka di layar.
Padahal tujuan utama penanganan demam bukan memenangkan pertandingan melawan termometer. American Academy of Pediatrics menjelaskan tujuan utama penanganan demam adalah membantu anak merasa lebih nyaman apabila ia merasa tidak nyaman atau kesakitan.
Artinya, kondisi anak tetap menjadi fokus utama.
Pastikan Anak Mendapatkan Cairan
Anak yang demam dapat kehilangan cairan lebih banyak dan terkadang menjadi malas minum.
Karena itu, cairan perlu diperhatikan.
American Academy of Pediatrics menyebut memastikan anak mendapatkan cukup cairan untuk mencegah dehidrasi sebagai salah satu hal terpenting yang dapat dilakukan ketika anak demam.
Tidak perlu memaksa anak menghabiskan segelas besar sekaligus. Pada anak yang sulit minum, cairan dapat ditawarkan sedikit demi sedikit tetapi lebih sering.
Pada bayi yang masih menyusu, pemberian ASI dapat diteruskan.
Yang penting, orang tua memperhatikan apakah anak masih dapat minum dan buang air kecil dengan wajar.
Biarkan Anak Beristirahat
Tubuh sedang bekerja menghadapi penyebab demam.
Tidak mengherankan jika anak menjadi lebih banyak tidur atau tidak seaktif biasanya.
Beristirahat dapat membantu anak melewati masa sakit dengan lebih nyaman. Namun “lebih banyak tidur” perlu dibedakan dari kondisi ketika anak sangat sulit dibangunkan atau tidak merespons dengan normal.
Jika anak sulit dibangunkan, tampak bingung, atau tidak waspada ketika terjaga, itu bukan sekadar anak yang sedang ingin tidur dan memerlukan perhatian medis.
Apakah Demam Harus Selalu Diberi Obat Penurun Panas?
Tidak selalu.
Jika anak demam tetapi tetap nyaman, tidak setiap kenaikan suhu harus langsung “dikejar” dengan obat.
Mayo Clinic menjelaskan bahwa pada demam ringan, tenaga kesehatan mungkin tidak menyarankan obat untuk menurunkan suhu.
Obat penurun panas lebih ditujukan untuk membantu kenyamanan anak daripada sekadar membuat termometer menunjukkan angka normal.
Bagaimana dengan Paracetamol atau Ibuprofen?
Obat seperti acetaminophen atau paracetamol dan ibuprofen memang sering digunakan untuk membantu anak yang tidak nyaman akibat demam.
Namun dosis pada anak tidak boleh ditebak.
Usia, berat badan, kondisi kesehatan, konsentrasi produk, dan petunjuk penggunaan perlu diperhatikan. Mayo Clinic menyebut acetaminophen dapat digunakan pada anak sesuai petunjuk, sedangkan ibuprofen dapat digunakan pada anak usia enam bulan atau lebih. Untuk bayi berusia kurang dari tiga bulan, jangan memberikan acetaminophen sebelum bayi dinilai oleh tenaga kesehatan.
Jika orang tua ragu mengenai obat atau dosisnya, lebih aman bertanya kepada dokter, apoteker, atau tenaga kesehatan daripada mengira-ngira.
Jangan Berikan Aspirin kepada Anak
Aspirin bukan pilihan rutin untuk mengatasi demam pada anak.
Mayo Clinic menyarankan agar aspirin tidak digunakan untuk mengatasi demam pada orang berusia 18 tahun atau lebih muda.
Karena itu, jangan menggunakan obat orang dewasa untuk anak hanya karena sama-sama bertujuan menurunkan demam.
Bayi di Bawah 3 Bulan Demam? Jangan Menunggu
Nah, ini bagian yang sangat penting.
Jika anak yang demam adalah bayi berusia kurang dari tiga bulan, pendekatannya berbeda dibanding anak usia tiga atau lima tahun.
American Academy of Pediatrics menyarankan agar dokter segera dihubungi apabila bayi berusia kurang dari tiga bulan atau 12 minggu memiliki suhu 38°C atau lebih.
Mayo Clinic juga menyarankan bayi di bawah tiga bulan dengan demam untuk mendapatkan penilaian medis.
Mengapa lebih serius?
Karena pada bayi yang sangat muda, demam dapat menjadi salah satu tanda awal infeksi yang membutuhkan evaluasi segera, sementara gejala lainnya mungkin belum terlihat jelas.
Jadi, untuk kelompok usia ini, jangan menunggu sampai anak terlihat sangat sakit baru mencari pertolongan medis.
Kapan Demam pada Anak Harus Dibawa ke Dokter?
Sekarang kita masuk ke pertanyaan yang biasanya paling ingin diketahui orang tua.
Tidak ada satu angka ajaib yang bisa menjawab semua kondisi.
Namun ada beberapa tanda yang membuat anak perlu mendapatkan evaluasi medis.
Anak Sulit Bernapas
Demam yang disertai kesulitan bernapas perlu mendapat perhatian.
Perhatikan jika anak terlihat bekerja keras ketika bernapas, napasnya sangat cepat, atau tampak kesulitan mendapatkan udara.
American Academy of Pediatrics memasukkan kesulitan bernapas sebagai salah satu gejala yang perlu segera dikonsultasikan kepada dokter ketika menyertai demam.
Jika kesulitan bernapas berat atau kondisi anak tampak mengancam nyawa, cari pertolongan darurat.
Anak Sangat Lemas atau Sulit Dibangunkan
Anak yang sedang demam memang mungkin lebih lemas.
Tetapi ada perbedaan antara anak yang ingin rebahan sambil menonton televisi dengan anak yang sulit dibangunkan atau tidak merespons seperti biasanya.
HealthyChildren.org memasukkan kondisi sangat lemah, sulit dibangunkan, tidak waspada ketika terjaga, atau tampak bingung sebagai tanda yang membutuhkan pertolongan medis segera.
Jangan hanya berpatokan pada suhu jika perilaku dan kesadaran anak berubah drastis.
Ada Tanda Dehidrasi
Saat demam, perhatikan juga berapa banyak anak minum dan buang air kecil.
Mayo Clinic menyebut tanda dehidrasi pada anak dapat berupa tidak ada popok basah selama sekitar delapan sampai sepuluh jam, menangis tanpa air mata, mulut kering, atau menolak minum.
Jika anak terus muntah dan tidak mampu mempertahankan cairan yang diminumnya, kondisi tersebut juga perlu diperhatikan.
Demam Disertai Leher Kaku atau Ruam yang Tidak Biasa
Demam yang muncul bersama gejala tertentu tidak sebaiknya dianggap sebagai demam biasa.
American Academy of Pediatrics menyarankan segera menghubungi dokter jika demam disertai antara lain leher kaku, sakit kepala berat, ruam yang tidak dapat dijelaskan, kesulitan bernapas, atau muntah maupun diare berulang.
Jika anak tampak sangat sakit atau gejalanya berkembang cepat, jangan menunggu hanya untuk melihat apakah suhu akan turun sendiri.
Suhu Sangat Tinggi dan Berulang
Angka bukan satu-satunya hal penting, tetapi suhu yang sangat tinggi tetap membutuhkan perhatian.
American Academy of Pediatrics menyarankan segera menghubungi dokter apabila suhu anak berulang kali naik di atas 40°C, berapa pun usianya.
Kondisi anak secara keseluruhan tetap perlu menjadi bagian dari penilaian.
Demam Tidak Kunjung Membaik
Durasi demam juga penting.
American Academy of Pediatrics menyarankan menghubungi dokter apabila demam berlangsung lebih dari 24 jam pada anak berusia kurang dari dua tahun atau lebih dari tiga hari pada anak berusia dua tahun atau lebih.
Pedoman dapat sedikit berbeda berdasarkan usia, gejala penyerta, dan kondisi kesehatan anak. Karena itu, jika orang tua merasa kondisi anak semakin buruk meskipun belum mencapai batas waktu tersebut, tidak perlu menunggu.
Apakah Demam Tinggi Bisa Merusak Otak Anak?
Kekhawatiran ini sering muncul ketika angka termometer mulai mendekati 39°C atau 40°C.
Bayangan yang muncul biasanya menakutkan: bagaimana kalau panasnya “naik ke otak”?
Namun demam akibat penyakit biasa tidak sama dengan peningkatan suhu akibat kondisi lingkungan ekstrem seperti heatstroke.
Mayo Clinic menjelaskan sebagian besar demam pada masa kanak-kanak tidak menyebabkan kerusakan otak. Mereka juga menekankan bahwa tinggi rendahnya angka demam tidak selalu menunjukkan seberapa berat penyakit anak.
Artinya, orang tua tidak perlu panik hanya karena melihat angka yang tinggi, tetapi tetap harus memperhatikan tanda bahaya dan kondisi anak.
Bagaimana dengan Kejang Saat Demam?
Bagi orang tua yang pernah menyaksikannya, kejang saat demam bisa menjadi pengalaman yang sangat menakutkan.
Anak yang sebelumnya hanya terlihat demam tiba-tiba mengalami kejang.
Jika anak mengalami kejang bersama demam, ia perlu mendapatkan penilaian medis. American Academy of Pediatrics memasukkan kejang sebagai alasan untuk segera menghubungi dokter, sementara panduan gejalanya menyarankan pertolongan segera pada anak yang mengalami kejang bersama demam.
Jika kejang sedang terjadi, terutama jika berlangsung lama, terjadi untuk pertama kali, anak mengalami kesulitan bernapas, atau tidak kembali sadar seperti biasanya, cari pertolongan darurat.
Jangan Membandingkan Demam Anak dengan Pengalaman Anak Lain
“Anaknya tetangga kemarin 39°C cuma dikompres.”
“Keponakanku kalau demam selalu dikasih obat ini.”
“Dulu kakaknya demam tiga hari juga sembuh sendiri.”
Cerita semacam ini mudah sekali menjadi acuan.
Masalahnya, dua anak dengan suhu yang sama belum tentu memiliki penyebab demam, usia, berat badan, kondisi kesehatan, dan gejala yang sama.
Anak berusia lima tahun dengan suhu 38,5°C yang masih bermain tentu tidak dapat disamakan dengan bayi dua bulan yang memiliki suhu sama.
Begitu pula anak sehat tanpa penyakit kronis tidak selalu dapat disamakan dengan anak yang memiliki gangguan sistem imun atau kondisi medis tertentu.
Karena itu, pengalaman orang lain boleh menjadi cerita, tetapi bukan pengganti evaluasi medis.
Malam Ini Termometer Menunjukkan 38°C, Apa yang Perlu Dilakukan?
Kita kembali lagi ke kamar yang gelap tadi.
Termometer masih berada di tangan. Angkanya menunjukkan demam.
Alih-alih langsung panik, orang tua bisa mulai dengan memperhatikan gambaran yang lebih besar.
Berapa usia anak? Bagaimana suhu diukur? Apakah anak masih merespons dengan normal? Apakah ia mau minum? Bagaimana napasnya? Apakah ada muntah berulang, ruam yang tidak biasa, leher kaku, nyeri berat, atau tanda dehidrasi? Sudah berapa lama demam berlangsung?
Pada anak yang lebih besar, masih cukup aktif, mau minum, bernapas nyaman, dan tidak memiliki tanda bahaya, pemantauan di rumah sering kali dapat dilakukan sambil menjaga cairan, istirahat, dan kenyamanannya.
Namun bayi di bawah tiga bulan dengan suhu 38°C atau lebih perlu mendapatkan evaluasi medis segera. Begitu pula anak yang mengalami kesulitan bernapas, sulit dibangunkan, dehidrasi, kejang, leher kaku, ruam yang mengkhawatirkan, atau tampak sangat sakit.
Pada akhirnya, termometer memang memberikan angka.
Tetapi anak memberikan cerita yang jauh lebih lengkap.
Jadi ketika demam datang lagi pada tengah malam, jangan hanya bertanya, “Berapa suhunya?”
Lihat bagaimana anak bernapas. Lihat apakah ia masih mau minum. Perhatikan bagaimana ia merespons. Catat berapa lama demam berlangsung dan gejala lain yang muncul.
Karena dalam menghadapi demam pada anak, memahami kondisi anak secara keseluruhan jauh lebih berguna daripada sekadar mengejar angka agar kembali normal.
Referensi
American Academy of Pediatrics, HealthyChildren.org — Fever: When to Call the Pediatrician:
https://www.healthychildren.org/English/health-issues/conditions/fever/Pages/When-to-Call-the-Pediatrician.aspx
American Academy of Pediatrics, HealthyChildren.org — Signs and Symptoms of Fever:
https://www.healthychildren.org/English/health-issues/conditions/fever/Pages/Signs-and-Symptoms-of-Fever.aspx
American Academy of Pediatrics, HealthyChildren.org — Treating Your Child’s Fever: FAQs for Parents:
https://www.healthychildren.org/English/health-issues/conditions/fever/pages/Medications-Used-to-Treat-Fever.aspx
American Academy of Pediatrics, HealthyChildren.org — How to Take Your Child’s Temperature:
https://www.healthychildren.org/English/health-issues/conditions/fever/Pages/How-to-Take-a-Childs-Temperature.aspx
American Academy of Pediatrics, HealthyChildren.org — Urgent Care, ER or Pediatrician? A Parent Guide:
https://www.healthychildren.org/English/family-life/health-management/Pages/urgent-care-ER-or-pediatrician-a-parent-guide.aspx
Mayo Clinic — Fever in Children:
https://www.mayoclinic.org/symptom-checker/fever-in-children-child/related-factors/itt-20009075
Mayo Clinic — Thermometer Basics: Taking Your Child’s Temperature:
https://www.mayoclinic.org/healthy-lifestyle/infant-and-toddler-health/in-depth/thermometer/art-20047410
Mayo Clinic — Fever: Diagnosis & Treatment:
https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/fever/diagnosis-treatment/drc-20352764